NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (3)

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (2). Lima kalimat terakhir edisi sebelumnya berbunyi :

O, iya, aku belum ceritakan. Di hari pertama itu, aku berkenalan dengan siswa Namche yang memakai jas rohis Ash-Shaff, mas Rama. Apabila pembaca adalah wanita, pasti pembaca akan terpukau bila berkenalan. Begitu pula di hari kedua, pertemuan itu kembali terulang walaupun tanpa perkenalan. Wajahnya tetap senang dan menebar senyum.

Continue reading

Advertisements

NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (2)

 

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (1). Paragraf teakhir edisi sebelumnya berbunyi :

Hari kedua. Penuh teka-teki yang rumit. Pagi-pagi kubuka PBS Online. NEM-ku sudah ‘nggak nyandak’ di Teladan. Lalu, kubuka daftar nilai yang masuk di Delayota. Tak ada harapan juga. Kulihat NEM Luar Kota (dengan titik merah) terendah adalah 36,55. Ada juga di atasnya 36,65. Sama dengan nilaiku! 36,65 dengan nama Yosephine bla bla bla (aku lupa). Dia pilihan pertama adalah Delayota. Lalu, aku klik namanya dan muncullah pilihan kedua yang dipilih orang itu. Pilihan keduanya adalah Namche.

Namche? Aku tak tahu lebih dalam tentang sekolah itu. Di kalangan remaja SMP, Namche itu samar di telinga. Bagi mereka, mereka banyak yang mengetahui tentang Padmanaba, Teladan, Delayota, dan Smada. Namun, jika disangkutpautkan dengan Namche, maka mereka akan berkata seraya mengejek, “Aku tak pernah punya harapan sekolah di situ…,”

Continue reading

NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (1)

Oleh : Ananda Sevma

Dulu aku pernah bermimpi, “Aku pasti akan menebus impianku!”

“Aku pasti bisa sekolah di Teladan…”

Namun, NEM-ku menghasilkan hasil yang di bawah standar anak-anak Teladan. Sebut saja 36,65. Delayota? Itu bukan impianku, kapanpun. Aku sudah sangat cinta dengan Teladan. Kecintaanku bisa terbukti pada waktu pendataan bagi yang sekolahnya di Luar Kota. Sesungguhnya pendataan dapat dilakukan di Delayota (bagian timur), namun, aku bersikeras untuk melakukan pendataan di Teladan (bagian barat). Walaupun jauh, tak apalah, itu adalah sekolah yang ‘nggak ada’ geng-gengannya. Bagiku waktu itu, tak ada pilihan selain Teladan.

Hari pertama dan kedua pendaftaran sekolah

Tepatnya tanggal 5 dan 6 Juli 2010. Aku tak ingin beranjak ke Teladan. Kasihan orang tuaku. Biasanya nanti akan berlangsung adegan ‘bohong-bohongan’. Membohongi orang lain dengan menyebutkan NEM anaknya secara berlebihan (tidak sesuai ijazah).

Continue reading