NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (2)

 

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (1). Paragraf teakhir edisi sebelumnya berbunyi :

Hari kedua. Penuh teka-teki yang rumit. Pagi-pagi kubuka PBS Online. NEM-ku sudah ‘nggak nyandak’ di Teladan. Lalu, kubuka daftar nilai yang masuk di Delayota. Tak ada harapan juga. Kulihat NEM Luar Kota (dengan titik merah) terendah adalah 36,55. Ada juga di atasnya 36,65. Sama dengan nilaiku! 36,65 dengan nama Yosephine bla bla bla (aku lupa). Dia pilihan pertama adalah Delayota. Lalu, aku klik namanya dan muncullah pilihan kedua yang dipilih orang itu. Pilihan keduanya adalah Namche.

Namche? Aku tak tahu lebih dalam tentang sekolah itu. Di kalangan remaja SMP, Namche itu samar di telinga. Bagi mereka, mereka banyak yang mengetahui tentang Padmanaba, Teladan, Delayota, dan Smada. Namun, jika disangkutpautkan dengan Namche, maka mereka akan berkata seraya mengejek, “Aku tak pernah punya harapan sekolah di situ…,”

Iseng-iseng aku buka halaman pendaftaran SMA Teladan. Sahabatku, Wildan Salsabila, dengan NEM-nya 38,** (aku lupa) nampaknya benar-benar merosot dari ranking awal 30-an. Wild, maafkan aku tak bisa sekelas atau satu sekolah lagi denganmu. Semua ajaran tentang ilmu dunia maupun agama sangatlah bermanfaat bagiku. Berjuanglah di Teladan, Wild. Seperti kakakmu. Ya, kakaknya, Afif Azhrul Firdaus memang tak jauh beda dengan Wildan. Dan kini kepintarannya mas Afif bisa dibuktikan dengan berhasilnya dia diterima di Fakultas Kedokteran UGM via jalur Undangan. Moga aku dan kamu (para pembaca) mampu meneladaninya.

Dan ini saatnya, hari kedua yang meragukan. Masih pagi. Keputusan banyak yang bercabang-cabang. Dan apabila dihubung-hubungkan, kamu akan ikut berputar dalam keputusan itu. Penuh keraguan. Semua akan heran dengan keputusan itu. Bimbang dengan kejelekan nilai ujian nasional. Harapannya pun dilemma. Gagal dalam menebus impian. Yang dirasakan bukanlah kegembiraan selayaknya orang-orang yang pintar, yang NEM-nya lebih bagus. Rata-rata nyaris 9,25 pun tak disangka hanya sebagai hiasan ijazahku.

Di hari kedua itu, aku dan ibuku bergegas menuju Namche. Aku membayangkan dalam perjalanan. Kini, studiku tiga tahun mendatang akan terukir di Namche. Entahlah, semua tidak harus mampu dijalani dengan penyesalan. Teladan, I miss you. I always dream you, but I can’t do more. It’s me. Sevma. Namche is coming. Setidaknya sampai di Namche sekitar pukul 09.30. Mobil Xenia hitam bernomor plat AB 8386 LB diparkirkan di lapangan voli yang sebelah timur. Aku dan ibuku beranjak dari mobil, lalu segera menuju tampilan daftar NEM terendah yang sudah masuk di Namche. Lebih tepatnya di depan kantor guru. Suasana yang tak terduga. Hari kedua, siswa-siswi  berwajah lusuh. Atau lebih baik kata ‘cemas’ yang diekspresikan pada mereka. O, iya, aku belum ceritakan. Di hari pertama itu, aku berkenalan dengan siswa Namche yang memakai jas rohis Ash-Shaff, mas Rama. Apabila pembaca adalah wanita, pasti pembaca akan terpukau bila berkenalan. Begitu pula di hari kedua, pertemuan itu kembali terulang walaupun tanpa perkenalan. Wajahnya tetap senang dan menebar senyum.

Insya Allah bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s