NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (3)

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (2). Lima kalimat terakhir edisi sebelumnya berbunyi :

O, iya, aku belum ceritakan. Di hari pertama itu, aku berkenalan dengan siswa Namche yang memakai jas rohis Ash-Shaff, mas Rama. Apabila pembaca adalah wanita, pasti pembaca akan terpukau bila berkenalan. Begitu pula di hari kedua, pertemuan itu kembali terulang walaupun tanpa perkenalan. Wajahnya tetap senang dan menebar senyum.

Pada jam 10-an, akhirnya kami mendaftar di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Hatiku masih berasa kecewa. Kekecewaan yang tentunya kalian akan ikut kecewa jika aku menceritakannya. Harapan yang selama lebih dari setahun itu gagal ditebus.Jalanilah, Sev! Semua identitas yang harus diisi sudah dilengkapi. Begitu pula dengan perangko seharga 6.000.

Selesai itu, aku melihat data ranking pendaftaran yang sudah masuk di Namche. Dengan terkejut aku berada di ranking kedua puluh. Namaku tertera secara lengkap dengan titik merah di kanannya. Itu pertanda karena aku bertempat tinggal tidak di kota Yogyakarta. Atau sebut saja ini semacam diskriminasi berdasarkan tempat tinggal. Hanya pelajar yang bertempattinggalkan di kota Yogya saja yang diberi kapasitas jauh lebih banyak. Bahkan ada-ada saja pelajar yang curang, artinya pelajar itu hanya titip KK dengan saudaranya atau mungkin teman orang tuanya. Sungguh perilaku tercela!

Setiap menit bertambah ranking-ku semakin menuju ke bawah. Pukul 11.00, aku bertemu Dania bersama kakak wanitanya. Dulu, orang itu ngebet banget bersekolah di Padmanaba. Kedua kakaknya juga alumni Padmanaba. Malang benar nasibnya. Jalanilah!

Pendaftaran ditutup dan aku…

Pendaftaran akhirnya ditutup. Aku dinyatakan diterima di Namche dengan urutan ranking ketiga puluh satu. Aku dan ibuku merasa lega. Banyak pertanyaan yang masuk ke dalam otakku. Akankah aku menggapai yang lebih bagus di sini? Bagaimana jika aku justru hancur di sini? Ikut geng remaja, merokok, pulang sore atau bahkan malam? Selalu dipanggil BK? Tidak dijuruskan sesuai minatku atau bahkan tidak naik kelas?  Tidak. Tidak seharusnya begitu. Aku justru dituntut untuk lebih baik. Menjadi anak Namche yang pandai walau susah. Tentunya. Tidak mengejar kepopuleran, tidak pula dikejar oleh anak-anak geng. Itulah caranya dengan masuk rohis Ash-Shaff.

Pasti beberapa kisah akan terukir di sini. Tentang pengalaman yang belum pernah terjadi. Tentang cinta pula. Dan bukan tentang kegalauan. Kisah-kisah yang inspiratif. Kisah yang sebelumnya belum pernah dinukil. Saksikan saja dan kau pun akan mengetahui.

 

Juga dapat dikunjungi di :

Insya Allah bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s