NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (5-end)

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (4). Beberapa kalimat terakhir edisi sebelumnya berbunyi : Aku mulai berpikir, akankah aku berada di kelas yang seceria di masa SMP? Atau bahkan lebih ceria? Kelas sepuluh! Aku harus senang, selalu senang, itu yang semua harapkan…

SEPULOH ENEM

Kelas X-6 yang harus kutapaki. Bukan X-A atau X-F, kali ini menggunakan angka. Dari alumni SMP Negeri 4 Depok, hanya aku yang ada di kelas ini. Dania berada di X-7, sedangkan Harenda berada di X-8. Nomor absenku adalah nomor dua. Sebelumnya, aku belum pernah mengalami untuk memilik nomor absen 2. Akankah sesuatu di kelasku ini yang lebih menarik daripada selama di SMP? Sahabat yang selalu dieratkan. Belum saatnya pula untuk mengenal cinta.

Selama hari pertama sampai dengan terakhir Masa Orientasi Siswa (MOS), di tengah-tengahnya aku terpilih menjadi ketua kelas X-6 (sebelumnya aku pernah menjadi ketua kelas pada waktu kelas 5 SD). Entahlah, tugas ini pastinya lebih berat. Sekarang kan SMA, yang dulu SD! Ditambah aku juga harus memikul kekecewaanku yang telah gagal bersekolah di Teladan.

Awalnya, aku bersikap diam (boleh ditambah tanpa kata). Inilah kelasku yang akan dihiasi kekecewaan karena gagal masuk sekolah idaman? Atau kelasku yang dihiasi berjuta keceriaan (walau pasti nantinya ada beribu tangisan)? Sayangnya, belum ada satu siswa/i pun yang kukenal. Kecuali nama Bintang Aditya yang aku yakin laki-laki itu adalah satu kelas denganku selama melaksanakan bimbingan belajar kelas IX di Neutron Sabirin kelompok kelimabelas setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Hari-hari awal di kelas itu dipenuhi kenal-mengenal siswa baru. Celoteh yang sebaiknya tidak perlu kudengar. Namun, sudah telanjur… Aku akan nikmati setahun ini (walau hanya sebelas bulan) si Sepuloh Enem ini. Akankah kautemukan sesuatu yang membuatmu terpesona di kelas ini? Benarkah kau bisa meraih impianmu kembali walau dulu kau sudah pernah menggagalkannya? Mungkinkah kau serajin di masa SMP? Atau justru kau akan menjadi malas di SMA ini? Bekaryalah untuk sekolahmu!

Kelasku kelas indah, kelas Sepuloh Enem

Siswa-siswa pilihan, siswi-siswi unggulan

Isinya bak professor, pemikir jempolan

Selintas seperti sibuk menjadi, Anak Teladan

_

Edisi NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan sudah tamat. Tapi cerita tentang NAMCHE belum tamat.

NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (4)

Lanjutan dari NAMCHE : Bukan Sekolah Asal-Asalan (3). Paragraf terakhir edisi sebelumnya berbunyi :

Pasti beberapa kisah akan terukir di sini. Tentang pengalaman yang belum pernah terjadi. Tentang cinta pula. Dan bukan tentang kegalauan. Kisah-kisah yang inspiratif. Kisah yang sebelumnya belum pernah dinukil. Saksikan saja dan kau pun akan mengetahui.

Satu hari setelah pendaftaran

Pendaftaran ulang SMA Negeri 6 Yogyakarta kuhadiri pada hari Rabu, 7 Juli 2010. Aku berangkat dari rumah tidak terlalu pagi. Aku sambut hariku itu dengan keberhasilan. Begitu pula dengan kebahagiaan yang melanda. Namun, masih sangat dikecewakan ketika mimpi gagal kutebus. Tepat pukul setengah sembilan, aku sampai di Namche. Mengisi tanda tangan di aula dan bergegas mengisi berbagai data yang dinilai penting bagi pihak sekolah. Semua murid dan orang tua mengisinya di ruang 109. Aku tidak mengenal siapa-siapa di ruangan itu. Tampaklah beberapa mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata ikut membantu dalam pendaftaran ulang di ruang itu. Tidak ada satu pun teman SMP yang kukenali. Oh, tidak! Bagaimana jika dalam perjalananku yang akan berjalan panjang ini justru tidak melibatkanmu? Bagaimana jika aku jatuh je jurang kemalasan dan kau tak mau tahu? Hidup yang selama ini kita jalani bersama terasa hebatnya, namun, kau pergi jauh walau tidak mengitari samudera. Teman… Kawan… Aku merasa kehilanganmu! Aku salah! Aku telah membuat hubungan ini menjadi jauh!

Selanjutnya, kami menuju aula untuk memberi data-data yang telah kami isi. Aku berada pada urutan paling kiri, karena berada di ranking 1 sampai dengan 40. Aku mengantre dan tiba saatnya untuk berbincang dengan salah satu guru di Namche, Bu BK. Perbincangan itu juga melibatkan tentang ekstrakurikuler yang kupilih, Teater (padahal dua bulan setelah itu aku pindah ke KIR). Selanjutnya, perbincangan itu selesai. Kami menuju tempat pemesanan baju seragam sekolah. Engkau masih anak SMA, berbanggalah… SMA benar-benar masa-masa yang paling indah. Tersenyum dong!Aku juga memilih batik, mencoba memakai jas almameter bewarna merah tua. Lihatlah dirimu! Anak SMA Negeri 6 Yogyakarta, Muda Wijaya.

Aku diberi info bahwa nanti Sabtu, tanggal 10 Juli, murid-murid baru SMA 6 diharapkan kehadirannya guna persiapan Masa Orientasi Siswa yang dihelat pada tanggal 12 s.d. 14 Juli. Aku mulai berpikir, akankah aku berada di kelas yang seceria di masa SMP? Atau bahkan lebih ceria? Kelas sepuluh! Aku harus senang, selalu senang, itu yang semua harapkan…

Juga dapat dikunjungi di : http://bit.ly/namche-4-sevma

Insya Allah bersambung lagi
Maaf sekali apabila pembaca telah menunggu lama untuk membaca episode selanjutnya.